Kerja Kepolisian dalam ungkap sindikat Curanmor yang berkeliaran di Kota Bima perlu dipertanyakan.
Kota Bima, KS.- Kerja Kepolisian dalam ungkap sindikat Curanmor yang berkeliaran di Kota Bima perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak, hampir tiap hari motor warga Kota Bima dibawa kabur maling.Dalam bulan Oktober, setidaknya puluhan motor milik warga kota Bima hilang. Hingga hari ini, motor yang dibawa kabur maling itu tidak ada satupun yang bisa diungkap pelakunya, termasuk dua motor Wartawan Koran Stabilitas yang hilang di area Kantor di Lingkungan Santi dan depan Apotek As-Sifa Kota Bima. Atas sederetan peristiwa tersebut, membuktikan bahwa curanmor di wilayah hukum Polres Bima Kota makin merajalela, sementara aparat penegak hukum kelihatannya “mandul”.
Kejahatan sindikat tersebut, juga membuat warga Kota Bima cemas. Karena sindikat Curanmor tidak hanya mengambil motor dari warga Sipil, namun motor milik Wartawan, Polisi, Jaksa dan TNI juga tidak luput dari sindikat ini.
Dengan keadaan ini, Kota Bima sudah darurat sindikat Curanmor. Harusnya Polisi bisa ungkap sindikat ini dan menangkap para sindikat yang merugikan warga Kota Bima.“Kinerja Kepolisian harus lebih ditingkatkan lagi untuk ungkap sindikat curanmor agar memberikan rasa nyaman kepada warga Kota Bima saat ini,” sorot Alfin Sahrir, M.Si selaku Akademisi Bima
Lanjutnya, secara ilmu sosiologis, dengan pelaku keejahatan ini bercokong di Kota Bima karena adanya ruang kosong dan lemahnya aparat penegak hukum .
Dengan demikian, ada kelonggaran sindikat dalam menjalankan aksinya tanpa ada kontrol dari aparat. Alfin juga menilai kepolisian tidak tegas untuk menindak pelaku curanmor. “Polisi harus bersikap tegas, jangan memberikan pengawasan lemah dalam menghadapi sindikat curanmor ini karena sudah meresahkan warga Kota Bima,” tandasnya.
Magister Sains Universitas Hasanudin Makassar ini juga menilai adanya pembiaran dari kepolisian terkait sindikat ini, karena Polisi hanya bisa menerima laporan diatas meja, namun ketajaman intelejen untuk melakukan pemetaaan wilayah rawan dan tempat berkumpulnya sindikat curanmor ini tidak mampu di identifikasi.“Saya melihat Kota Bima ini kecil, mustahil Polisi tidak mampu untuk ungkap sindikat Curanmor, bisa disimpulkan kinerja Kepolisian setengah hati dalam maslah ini,” pungkasnya.
Lebih penting lagi, Polisi harus berani bersikap untuk melakukan sweeping didaerah tempat para sindikat ini menyimpan hasil curian .selama ini, tidak ada aksi nyata kepolisian yang dibuka di Publik terkait ungkap gembong besar dalam sindikat ini.“Saya yakin polisi punya kemampuan untuk melakukan sweeping itu, namun butuh keberanian saja, masa hanya karena sindikat Curanmor mampu memberi pencitraan buruk terhadap kinerja Kepolisian. Ini tantangan besar yang perlu diperhatikan oleh aparat penegak hukum, jangan berikan ruang bagi sindikat kejahatan untuk bergerak bebas di Kota Bima” ujarnya.
Disisi lain, peran aktif masyarakat untuk melaporkan keberadaan sindikat ini juga diharapkan. Tanpa adanya informasi dari masyarakat, Polisi tidak bisa bekerja secara maksimal.“Untuk membantu meminimalisir pergerakan sindikat ini, perlu adanya kerjasama yang baik antara masyarakat dengan kepolisian,” imbuhnya.(KS-Ryan G)
Kejahatan sindikat tersebut, juga membuat warga Kota Bima cemas. Karena sindikat Curanmor tidak hanya mengambil motor dari warga Sipil, namun motor milik Wartawan, Polisi, Jaksa dan TNI juga tidak luput dari sindikat ini.
Dengan keadaan ini, Kota Bima sudah darurat sindikat Curanmor. Harusnya Polisi bisa ungkap sindikat ini dan menangkap para sindikat yang merugikan warga Kota Bima.“Kinerja Kepolisian harus lebih ditingkatkan lagi untuk ungkap sindikat curanmor agar memberikan rasa nyaman kepada warga Kota Bima saat ini,” sorot Alfin Sahrir, M.Si selaku Akademisi Bima
Lanjutnya, secara ilmu sosiologis, dengan pelaku keejahatan ini bercokong di Kota Bima karena adanya ruang kosong dan lemahnya aparat penegak hukum .
Dengan demikian, ada kelonggaran sindikat dalam menjalankan aksinya tanpa ada kontrol dari aparat. Alfin juga menilai kepolisian tidak tegas untuk menindak pelaku curanmor. “Polisi harus bersikap tegas, jangan memberikan pengawasan lemah dalam menghadapi sindikat curanmor ini karena sudah meresahkan warga Kota Bima,” tandasnya.
Magister Sains Universitas Hasanudin Makassar ini juga menilai adanya pembiaran dari kepolisian terkait sindikat ini, karena Polisi hanya bisa menerima laporan diatas meja, namun ketajaman intelejen untuk melakukan pemetaaan wilayah rawan dan tempat berkumpulnya sindikat curanmor ini tidak mampu di identifikasi.“Saya melihat Kota Bima ini kecil, mustahil Polisi tidak mampu untuk ungkap sindikat Curanmor, bisa disimpulkan kinerja Kepolisian setengah hati dalam maslah ini,” pungkasnya.
Lebih penting lagi, Polisi harus berani bersikap untuk melakukan sweeping didaerah tempat para sindikat ini menyimpan hasil curian .selama ini, tidak ada aksi nyata kepolisian yang dibuka di Publik terkait ungkap gembong besar dalam sindikat ini.“Saya yakin polisi punya kemampuan untuk melakukan sweeping itu, namun butuh keberanian saja, masa hanya karena sindikat Curanmor mampu memberi pencitraan buruk terhadap kinerja Kepolisian. Ini tantangan besar yang perlu diperhatikan oleh aparat penegak hukum, jangan berikan ruang bagi sindikat kejahatan untuk bergerak bebas di Kota Bima” ujarnya.
Disisi lain, peran aktif masyarakat untuk melaporkan keberadaan sindikat ini juga diharapkan. Tanpa adanya informasi dari masyarakat, Polisi tidak bisa bekerja secara maksimal.“Untuk membantu meminimalisir pergerakan sindikat ini, perlu adanya kerjasama yang baik antara masyarakat dengan kepolisian,” imbuhnya.(KS-Ryan G)
COMMENTS