Dugaan penggelapan dana untuk pembayaran angsuran kredit pada BRI dan BNI kembali terjadi. Kali ini, bukan dilakukan oknum Bendahara Dinas Kabupaten Bima
Dugaan penggelapan dana untuk pembayaran angsuran kredit pada BRI dan BNI kembali terjadi. Kali ini, bukan dilakukan oknum Bendahara Dinas Kabupaten Bima, melainkan diduga dilakukan mantan Bendahara Kantor Camat Rasana,e Barat Kota Bima, Nurhayati S.Sos. Modusnya, oknum yang kini sudah menjadi staf pada Kantor Camat itu diduga tidak menyetorkan angsuran pada dua Bank tersebut.
Padahal, gaji nasabah dari delapan Kelurahan setiap bulan dipotong untuk pembayaran angsuran tersebut. Namun, uang hasil potongan gaji para nasabah lebih kuran Rp. 100 Juta diduga dimanfaatkan mantan bendahara tersebut untuk kepentingan pribadi. “Angsuran kami untuk Bulan Agustus 2014 tidak disetor. Padahal, gaji kami sudah dipotong. Saya menduga uang angsuran itu dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya,” kata salah seorang nasabah yang enggan namanya dikorankan.
Terungkapnya dugaan penggelapan uang itu lanjutnya, ketika nasabah mendatangi dua Bank tersebut. Tujuanya, adalah untuk mencari tahu kebenaran atas informasi dugaan penggelapan angsuran kredit tersebut. Hasilnya, ternyata memang benar satu bulan angsuran kredit tidak dibayar oleh bendahara gaji tersebut. “Sebagian nasabah merasa kaget karena sudah tidak memiliki saldo direkening. Sementara, sebagianya lagi memilih untuk langsung kroscek di Bank,” ujarnya.
Atas tunggakan angsuran kredit tersebut, resikonya bukan hanya tanggungjawab sepenuhnya mantan bendahara yang kini sudah menjadi staf biasa pada Kantor Camat tersebut. Tetapi nasabah juga ikut menanggung tunggakan satu bulan akibat tidak disetor oknum tersebut. “Untuk menutupi kekurangan Bulan Agustus, pihak Bank lansung menarik secara sepihak tabungan pada rekening kami,” terangnya.
Kejahatan yang diduga dilakukan staf Kantor Camat itu bukan hanya dugaan penggelapan angsuran kredit. Namun, ada juga tindak kejahatan lain yang merugikan para PNS yang tergabung dalam Koperasi PNS Sabua Ade. Bahkan, sumber mengaku kembali menjadi korban atas praktek tak terpuji oknum PNS dimaksud. Kali ini bukan berupa uang, tapi barang seperti TV dan sebagainya. Celakanya lagi, pengambilan barang itu tidak diketahui oleh anggota Koperasi tersebut. “Dia (Nurhayati) ambil TV tanpa sepengetahuan saya, tapi untungnya baru satu bulan berjalan,” bebernya.
Sumber juga mengaku heran atas pengambilan barang di Koperasi atas namanya. Padahal, prosedur pengambilan barang di Koperasi harus ada tandanga anggota yang sudah resmi jadi anggota. Artinya, pengambilan barang di Koperasi harus mengikuti aturan yang telah ditentukan. “Saya heran, kok bisa dia mengambil barang tanpa sepengetahuan saya. Mungkin, tandatangan saya dipalsukan, hingga barang itu bisa diambil. Terus terang, saya tahu soal itu ketika kroscek di Koperasi,” pungkasnya.
Camat Rasana,e Barat, Lalu Sukarsana yang dikonfirmasi Koran Stabilitas Senin (22/9) di Ruang Kerjanya, mengaku sudah menerima laporan dari para nasabah Bank dibeberapa Kelurahan. Namun, persoalan itu terjadi sebelum dirinya dipercayakan menjabat sebagai Camat setempat. “Jujur, saya kesulitan mencarikan solusi atas persoalan itu. Karena saat itu, bukan saya yang jadi Camat. Menurut saya itu persoalan pribadi antara para nasabah dengan dia (Nur), “ akunya.
Soal barang yang diambil di Koperasi tanpa diketahui anggota Koperasi sebutnya, diluar pengetahuanya. Sebab, yang ia tahu hanya masalah dengan tiga Bank. Sementara, masalah pengambilan barang di Koperasi sama sekali tidak ia ketahui. “Kalau persoalan pengambilan barang di koperasi saya tidak tahu,” tandasnya.
Usai wawancara Camat, wartawan Koran ini mencoba melakukan konfirmasi mantan bendahara yang kini sudah menjadi staf pada Camat tersebut. Sayangnya, yang bersangkutan tidak berhasil ditemui. Menurut beberapa staf Camat setempat, dia (Nur red) tidak lama berada di Kantor. “Paling-paling datang sebentar, isi absen terus pulang,” tutur staf yang enggan namanya dikorankan. (KS-09)
Padahal, gaji nasabah dari delapan Kelurahan setiap bulan dipotong untuk pembayaran angsuran tersebut. Namun, uang hasil potongan gaji para nasabah lebih kuran Rp. 100 Juta diduga dimanfaatkan mantan bendahara tersebut untuk kepentingan pribadi. “Angsuran kami untuk Bulan Agustus 2014 tidak disetor. Padahal, gaji kami sudah dipotong. Saya menduga uang angsuran itu dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya,” kata salah seorang nasabah yang enggan namanya dikorankan.
Terungkapnya dugaan penggelapan uang itu lanjutnya, ketika nasabah mendatangi dua Bank tersebut. Tujuanya, adalah untuk mencari tahu kebenaran atas informasi dugaan penggelapan angsuran kredit tersebut. Hasilnya, ternyata memang benar satu bulan angsuran kredit tidak dibayar oleh bendahara gaji tersebut. “Sebagian nasabah merasa kaget karena sudah tidak memiliki saldo direkening. Sementara, sebagianya lagi memilih untuk langsung kroscek di Bank,” ujarnya.
Atas tunggakan angsuran kredit tersebut, resikonya bukan hanya tanggungjawab sepenuhnya mantan bendahara yang kini sudah menjadi staf biasa pada Kantor Camat tersebut. Tetapi nasabah juga ikut menanggung tunggakan satu bulan akibat tidak disetor oknum tersebut. “Untuk menutupi kekurangan Bulan Agustus, pihak Bank lansung menarik secara sepihak tabungan pada rekening kami,” terangnya.
Kejahatan yang diduga dilakukan staf Kantor Camat itu bukan hanya dugaan penggelapan angsuran kredit. Namun, ada juga tindak kejahatan lain yang merugikan para PNS yang tergabung dalam Koperasi PNS Sabua Ade. Bahkan, sumber mengaku kembali menjadi korban atas praktek tak terpuji oknum PNS dimaksud. Kali ini bukan berupa uang, tapi barang seperti TV dan sebagainya. Celakanya lagi, pengambilan barang itu tidak diketahui oleh anggota Koperasi tersebut. “Dia (Nurhayati) ambil TV tanpa sepengetahuan saya, tapi untungnya baru satu bulan berjalan,” bebernya.
Sumber juga mengaku heran atas pengambilan barang di Koperasi atas namanya. Padahal, prosedur pengambilan barang di Koperasi harus ada tandanga anggota yang sudah resmi jadi anggota. Artinya, pengambilan barang di Koperasi harus mengikuti aturan yang telah ditentukan. “Saya heran, kok bisa dia mengambil barang tanpa sepengetahuan saya. Mungkin, tandatangan saya dipalsukan, hingga barang itu bisa diambil. Terus terang, saya tahu soal itu ketika kroscek di Koperasi,” pungkasnya.
Camat Rasana,e Barat, Lalu Sukarsana yang dikonfirmasi Koran Stabilitas Senin (22/9) di Ruang Kerjanya, mengaku sudah menerima laporan dari para nasabah Bank dibeberapa Kelurahan. Namun, persoalan itu terjadi sebelum dirinya dipercayakan menjabat sebagai Camat setempat. “Jujur, saya kesulitan mencarikan solusi atas persoalan itu. Karena saat itu, bukan saya yang jadi Camat. Menurut saya itu persoalan pribadi antara para nasabah dengan dia (Nur), “ akunya.
Soal barang yang diambil di Koperasi tanpa diketahui anggota Koperasi sebutnya, diluar pengetahuanya. Sebab, yang ia tahu hanya masalah dengan tiga Bank. Sementara, masalah pengambilan barang di Koperasi sama sekali tidak ia ketahui. “Kalau persoalan pengambilan barang di koperasi saya tidak tahu,” tandasnya.
Usai wawancara Camat, wartawan Koran ini mencoba melakukan konfirmasi mantan bendahara yang kini sudah menjadi staf pada Camat tersebut. Sayangnya, yang bersangkutan tidak berhasil ditemui. Menurut beberapa staf Camat setempat, dia (Nur red) tidak lama berada di Kantor. “Paling-paling datang sebentar, isi absen terus pulang,” tutur staf yang enggan namanya dikorankan. (KS-09)
COMMENTS